Koperasi Keluarga Mandiri, Aiepacah Padang Sempat Dicemooh, Sukses dengan Susu Kedelai (ACPA)

Tak banyak koperasi bisa berkembang era sekarang. Namun berkat kegigihan dan tekad kuat untuk maju, Koperasi Keluarga Mandiri bisa eksis. Mereka pun melirik usaha yang lagi tren di tengah masyarakat.

Ketika gempa dahsyat tahun 2009 mengguncang, Koperasi Keluarga Mandiri ikut ambruk. Mereka bangkit kembali tahun 2010 dengan usaha susu kedelai. Meski terbilang kecil, namun perlahan dan pasti produksinya kian meningkat seiring banyaknya permintaan.

Tak ingin selamanya jadi orang gajian dan upahan, 7 orang pria sepakat membuat suatu usaha tahun 2007 lalu. Mereka punya latar belakang yang berbeda. Ada tukang bangunan, pekerja bengkel, pegawai swasta lingkungan di kompleks Perumahan Trisandi Aiepacah Padang.

“Waktu itu itu kami bertemu dengan Kepala Dinas Koperasi Sumbar Bapak Zirma Yusri, beliau sarankan untuk membentuk koperasi,” kata Nazaruddin, salah satu penggagas di kantor koperasi Kompleks Nuansa Indah III Aiepacah Padang, baru-baru ini.

Ide itu ternyata disambut positif semua rekannya. Namun tidak demikian dengan warga sekitarnya. “Kami sempat dicemooh dan tak direspons positif. Tapi kami tetap yakin, suatu saat akan berhasil,” tambah Nazaruddin.

Tak menunggu waktu lama, disulaplah rumah milik salah satu penggagas di kompleks itu jadi kantor koperasi yang diberi nama Koperasi Keluarga Mandiri. Badan Hukum pun diajukan ke Dinas Koperasi Padang tahun 2007 itu.

Tanggal 12 Maret 2008, Badan Hukum pun keluar dengan unit usaha simpan pinjam. Baru dua tahun berjalan, gempa dahsyat 2009 pun mengguncang. Tidak hanya kantor yang rusak, usaha pun ikut kolaps.

“Para anggota umumnya jadi korban gempa rumah mereka banyak yang rusak. Pembayaran iuran maupun pinjaman macet,” terangnya.

Mereka bangkit kembali pada tahun 2010. Saat Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang waktu itu beranggotakan 20 orang tercetuslah ide untuk membuat usaha susu kedelai.

Ide itu muncul dari Puadi, lulusan Akademi Teknologi Industri Padang (ATIP). Sebelum memulai, mereka juga melakukan riset dan penelitian serta searching di internet tentang cara pembuatan susu kedelai tersebut. Produksi pertama dicoba oleh petugas Dinas Koperasi Padang.

“Orang koperasi bilang enak, lalu kami juga hubungi Dinas Perindustrian, mereka juga mensupport. Maka produk resmi kami launching saat ada acara di kampus UNP yang dihadiri wali kota Padang waktu itu Fauzi Bahar,” tutur pria yang tengah merampungkan S2-nya didampingi Puadi.

Dipilihnya susu kedelai karena lagi booming waktu itu. Susu yang terbuat dari olahan kedelai ini laris manis di pasaran. Manfaatnya bukan hanya nilai gizi tapi juga untuk pencegahan dan penyembuhan penyakit.

Seperti penyakit mag, penurunan kolesterol, mengaja berat badan, meremajakan sel tubuh, mencegah kanker daear putih, mencegah menopause dan rematik, menurunkan gula darah dan meningkatkan stamina tubuh.

“Kita bikin susu kedelai dicampur kacang hijau dan coklat agar untuk melengkapi manfaat dan cita rasanya lebih nikmat,” ujarnya.

Susu kedelai yang mereka produksi dalam bentuk bubuk dan dijual dalam kemasan kotak isi 200 gram. Untuk berproduksi mereka mempekerjakan empat orang dan 12 orang bagian marketing.

Kini dalam sekali produksi sudah menghasilkan 2.000 kotak susu kedelai dengan merek ACPA ini. Satu kotak isi 200 gram susu kedelai bubuk dibanderol Rp35 ribu.

“Awalnya kita memasarkan door to door seperti ke sekolah-sekolah dan istansi pemerintah maupun swasta dengan target konsumen guru-guru dan pegawai,” katanya.

Selain itu juga memasarkan lewat minimarket dan supermarket yang ada di Padang. Meski begitu, perjalanan usaha mereka tak senantiasa mulus. “Kami terkendala permodalan, teknologi dan pemasaran. Ilmu yang didapatkan lewat pelatihan-pelatihan tak sama dengan implementasi di lapangan,” jelasnya.

Selama ini mereka baru mendapatkan suntikan modal Rp 20 juta dari Bank Nagari. Bantuan itu dipergunakan untuk membeli mesin produksi yang masih sederhana dan kapasitas kecil.

Tahun 2014, pengurus koperasi ini mengikuti pelatihan wirausaha yang diadakan Bank Indonesia. Mulai pelatihan mental jadi wirausaha hingga teknis mengelola dan mengembangkan usaha secara berkisambungan.

“Ilmu sudah banyak, kami modal kerja untuk kembangkan usaha. Kami ingin BI memfasilitasi dengan pihak ketika dan mengevaluasi usaha kami sekali tiga bulan,” harapnya.

Salah satu kendala untuk berkembang saat ini ketiadaan mesin berteknologi tinggi untuk mendongkrak produksi dengan kualitas lebih baik.

Sampai kini mereka juga belum punya tempat produksi yang memadai. Hanya satu ruang sempit untuk tempat mesin penyangrai kedelai dan penggiling kedelai, satu lagi untuk pengemasan.

Sedangkan untuk pemasaran kini menerapkan sistem syariah, bagi hasil dengan 12 tenaga marketing. Berkat kegigihan memasarkan produk, kini susu kedelai merk ACPA sudah merambah Batam, Medan, Pekanbaru dan Jakarta, Muko-muko dan seluruh kota-kabupaten minus Mentawai.

“Kita juga akan kembangkan di Jawa Timur dengan sistem kerja sama dengan orang sana,” tambahnya.

Kini koperasi sudan mempunyai omset Rp 153 juta dengan anggota koperasi berjumlah 30 orang. Masih tergolong kecil memang. Namun jauh meningkat dibandingkan modal awal hanya Rp 300 ribu saja.

Untuk pengembangan ke depan, Nazaruddin menyebutkan, pihaknya akan menggandeng investor dari Jakarta untuk mendirikan pabrik.

“Modalnya ada Rp 3 miliar. Konsultan investor itu bilang kami harus mencari tanah untuk mendirikan pabrik. Jika tanah sudah dapat, insya Allah Maret sudah bisa direalisasikan,” ujarnya. (*)

2 thoughts on “Koperasi Keluarga Mandiri, Sukses dengan Susu Kedelai (ACPA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *